Storyboard: Definisi, Tujuan, dan Cara Membuatnya

Pernahkah kamu menonton film favoritmu dan penasaran bagaimana proses kreatifnya di balik layar? Nah, storyboard adalah salah satu elemen kunci di balik layar yang sangat penting. Kalau kamu bergelut di industri kreatif, mungkin istilah satu ini terdengar tak asing. Setiap proyek kreatif memang dimulai dengan cerita yang dirancang secara visual melalui storyboard. Bisa dibilang, storyboard menjadi tahapan awal dalam pembuatan film, video, animasi, dan proyek visual lainnya. Lalu, apakah yang dimaksud storyboard? Apa saja manfaat dan bagaimana cara membuat storyboard? Simak penjelasan berikut ini!

Apa Itu Storyboard?

Pengertian storyboard adalah papan cerita berisikan serangkaian gambar atau ilustrasi berurutan yang akan ditampilkan dalam sebuah proyek visual, baik itu video animasi maupun film.  Biasanya, storyboard disusun dalam bentuk panel-panel yang menyerupai komik. Kamu bisa melihat urutan adegan, dialog, gerakan kamera, dan detail lainnya yang diperlukan untuk memvisualisasikan cerita secara keseluruhan dalam sebuah storyboard.

Sudah sejak lama orang industri kreatif menggunakan gambar storyboard untuk keperluan produksi. Menurut Pallant dan Price (2015), George Melies – seorang pembuat film asal Prancis – merancang konsep film menggunakan susunan foto pada awal abad ke-20. Inilah cikal bakal storyboard film. Namun, format storyboards yang digunakan saat ini dipopulerkan oleh Walt Disney Studios tahun 1930-an. Storyboard ala Walt Disney Studios berbentuk sketsa pada kotak panel berurutan secara menyamping.

Fungsi Storyboard

Dalam proses kreatif, storyboard adalah hal yang sangat penting. Papan cerita ini membantu kreator untuk merencanakan aspek cerita sebelum memulai produksi. Selain itu, ada berbagai fungsi storyboard di industri kreatif, berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Memudahkan dalam Memvisualisasi Cerita dan Konsep. Storyboard menyajikan informasi visual dalam format yang lebih mudah dimengerti. Jika kamu tim produksi, storyboard akan memvisualisasi cerita dan konsep dengan lebih konkret. Alih-alih mengkomunikasikan nuansa sebuah tempat atau adegan dengan paragraf deskripsi yang panjang, storyboards bisa merangkum semua informasi tersebut dalam panel gambar. Pada gambar tersebut terdapat satu dua kata yang memberikan penjelasan tentang konsepnya.
  2. Mengatur Urutan Adegan. Papan cerita yang dibuat secara berurutan ternyata memberikan manfaat tersendiri. Hal ini memudahkan kamu untuk melihat bagaimana cerita akan berkembang dari awal hingga akhir. Dengan begitu, kamu bisa memutuskan urutan adegan, komposisi visual, dan merencanakan tata letaknya. Jadi, fungsi storyboard dalam hal ini adalah menunjukkan alur naratif yang ingin ditampilkan. Nantinya, orang-orang yang tergabung dalam tim produksi hanya perlu mengikutinya saja. Cerita pun lebih logis sehingga penonton bisa lebih menikmati alurnya.
  3. Membantu merencanakan jadwal produksi. Ternyata, kegunaan storyboards juga berkaitan erat dengan jadwal produksi. Sebab, urutan cerita dalam storyboards bisa memudahkan kamu dalam menentukan prioritas produksi. Produser dapat membuat jadwal dan urutan kerja berdasarkan lokasi atau tingkat kesulitan adegannya. Kemudian, ilustrator, editor, dan animator dapat mempersiapkan aset visual yang dibutuhkan sesegera mungkin.
  4. Menghemat waktu dalam jangka panjang. Dengan memiliki rencana yang jelas melalui storyboard, tim produksi dapat menghindari kebingungan dan kesalahan selama proses produksi. Hal tersebut membantu memastikan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Adanya storyboards juga menghemat waktu produksi dalam jangka panjang. Tim produksi pun bisa memenuhi deadline yang telah ditentukan.
  5. Panduan untuk post-produksi. Selain menjadi panduan visual selama proses produksi, storyboard juga menjadi acuan selama fase post-produksi. Video editor dapat menggunakan storyboard sebagai referensi untuk proses pengeditan. Mereka dapat mencocokan adegan sesuai dengan visi kreatif yang telah ditetapkan sebelumnya. Alhasil, inipun membantu dalam memastikan konsistensi visual dan naratif dalam karya akhir.
  6. Meningkatkan kolaborasi tim. Fungsi storyboard juga melibatkan kolaborasi tim dan komunikasi yang efektif. Dengan memiliki visualisasi yang jelas, anggota tim dapat bekerja sama secara lebih terstruktur. Secara tak langsung, storyboard membantu menghindari kebingungan dan kesalahpahaman antara anggota tim. Semua orang pun memiliki pemahaman yang sama tentang visi kreatif proyek.
  7. Melakukan peninjauan dan evaluasi. Storyboards bisa mempermudah proses review dan evaluasi. Kamu bisa tahu apakah urutan cerita yang akan ditampilkan sudah sesuai atau belum. Lalu, apakah perkiraan durasi hasil akhirnya kelak sesuai dengan ketentuan? Pada akhirnya, tim dapat menentukan dana yang harus dikeluarkan untuk membayar para pekerja kreatif. Kemudian, kameramen bisa mendapatkan aset visual yang diperlukan.
  8. Mempermudah proses revisi awal. Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, fungsi storyboard adalah membantu perbaikan awal. Dengan melihat cerita secara visual melalui storyboard, para kreator dapat mengidentifikasi potensi masalah atau kekurangan dalam cerita sebelum memulai produksi secara penuh. Sebagai contoh, konsep cerita yang akan dibawakan harus diubah karena ingin menciptakan adegan yang lebih melekat di hati audiens, memotong durasi video, atau menghemat biaya produksi.

Pada tahap storyboards, proses revisi dan penyesuaian bisa lebih mudah, cepat dan efisien. Hal ini karena semua anggota tim belum mulai mengerjakan tugas mereka. Penyuntingan adegan pun juga akan lebih hemat waktu untuk mencegah penundaan rilis.

Jenis Storyboard

Dalam proses produksi proyek visual, kamu bisa menemukan beberapa jenis storyboard. Masing-masing jenis ini memiliki tujuan dan gaya proyek yang berbeda. Apa saja jenis-jenis storyboards yang akan sering kamu temui di industri kreatif? Kamu bisa menyimak selengkapnya di daftar berikut:

  1. Thumbnail storyboard. Thumbnail storyboard adalah versi draft kasar yang sederhana. Papan cerita ini berisi adegan atau gambar dalam bentuk thumbnail atau gambar mini. Biasanya, thumbnail storyboard digunakan dalam tahap perencanaan awal proyek atau untuk mengumpulkan ide-ide secara cepat. Kelebihannya adalah kecepatan dalam pembuatan dan fleksibilitas dalam mengeksplorasi konsep. Namun, kelemahannya kurangnya detail dalam representasi visual.
  2. Storyboard tradisional. Sesuai namanya, storyboards tradisional adalah jenis papan cerita yang dibuat secara manual. Kamu bisa menggambar sketsa di atas secarik kertas atau karton. Storyboards ini terdiri dari serangkaian panel yang mewakili adegan serta alur cerita. Umumnya, kamu akan menemukan storyboards tradisional dalam industri film, animasi, dan produksi video. Tujuannya untuk merencanakan setiap adegan secara mendetail sebelum memulai proses produksi.
  3. Digital storyboard . Storyboard digital adalah versi modern dari storyboard tradisional. Panel-panel gambar dibuat secara digital menggunakan perangkat lunak khusus. Umumnya, software yang digunakan adalah Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, atau Storyboard Pro. Kelebihan papan cerita versi digital adalah fleksibilitas dalam proses revisi serta pengaturan ulang adegan. Integrasi dengan alat produksi lainnya seperti animasi atau efek visual pun menjadi praktis. Tak kalah penting, versi digital juga mendukung kerja sama online dari jarak jauh.
  4. Motion Storyboard. Motion storyboards sering disebut juga sebagai animatic. Jenis storyboards ini menambahkan elemen pergerakan atau animasi ke dalam image atau panel. Di dalamnya memberikan gambaran kasar tentang setiap adegan saling berhubungan dan berinteraksi dalam hasil akhir video. Ini berbeda dengan storyboards pada umumnya yang hanya menyajikan urutan adegan secara terpisah tanpa transisi.

Isi Storyboard

Idealnya, storyboard film maupun animasi harus memiliki sejumlah elemen penting. Hal tersebut mempermudah proses komunikasi dan kolaborasi tim produksi. Berikut ini isi storyboard yang dimaksud:

  1. Judul. Judul adalah teks berukuran besar yang terletak di bagian atas storyboards. Bagian ini menunjukkan identitas sebuah proyek. Penulisan judul akan mempermudah penyimpanan storyboards. Selain itu, penulisan judul juga akan mempermudah kerja tim jika mengerjakan lebih dari satu proyek secara bersamaan.
  2. Sub-judul. Terletak di bawah teks judul, sub-judul adalah bagian dari storyboards yang memberikan informasi tambahan tentang adegan atau bagian tertentu dari proyek. Beberapa contohnya adalah deskripsi singkat tentang lokasi, waktu, dan informasi penting lainnya yang berkaitan dengan sebuah adegan. Bagian ini membuat audiens dan semua orang dalam tim produksi bisa memahami konteks dan tujuan dari setiap adegan.
  3. Visual. Inilah bagian inti storyboards. Visual berisikan image atau ilustrasi dari setiap adegan sebuah proyek. Di dalamnya berisi posisi karakter atau aktor serta benda-benda lainnya di dalam area pandang kamera, angle kamera (misal close up ke pemeran), atau efek khusus yang akan digunakan. Dengan menyertakan visual, setiap anggota tim akan lebih mudah merencanakan strategi kerja. Alhasil, kebutuhan produksi dandiskusi kreatif antara anggota tim akan terpenuhi.

Contoh Storyboard

  1. Storyboard animasi. Storyboard animasi adalah alat pra-produksi yang terdiri dari serangkaian panel image untuk mewakili setiap adegan atau momen dalam kartun. Setiap panel biasanya dilengkapi dengan deskripsi adegan, dialog (jika ada), dan catatan penting lainnya. Adanya storyboards untuk animasi membantu tim produksi dalam merencanakan alur cerita. Lalu, komposisi visual dan ekspresi karakter pun bisa diketahui sebelum memulai produksi animasi. Panel-panel dalam storyboards ini menggambarkan ekspresi karakter, gerakan, dan perubahan suasana secara visual. (Dream Farm Studios).
  2. Storyboard film. Untuk produksi film live action terdiri dari serangkaian panel image yang merinci setiap adegan. Setiap panel biasanya dilengkapi dengan deskripsi adegan, arah kamera, gerakan kamera, dan penekanan visual lainnya agar instruksinya lebih jelas. Sutradara dan tim produksi akan sangat terbantu saat merencanakan komposisi visual. Tak hanya itu, cara pengaturan kamera dan arah cerita sebelum memulai shooting juga dapat ditentukan. (Studio Antelope).
  3. Storyboard simple. Ini adalah versi yang lebih minimalis dari storyboards animasi atau film. Storyboard simpel sering digunakan untuk proyek dengan skala kecil atau pendek. Umumnya, contoh storyboard sederhana terdiri dari sketsa kasar yang mewakili alur cerita dan penempatan visual tanpa detail terlalu rumit. Meskipun lebih sederhana, jenis storyboards ini memberikan pandangan umum tentang proyek yang berlangsung. (Pinterest).
  4. Storyboard iklan. Storyboard iklan adalah alat untuk merencanakan dan merancang iklan marketing di TV atau media sosial berbasis video seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Storyboard iklan terdiri dari serangkaian panel image atau sketsa yang mewakili momen penting dalam iklan. Dalam jenis papan cerita ini terdapat deskripsi adegan dan dialog pemeran (jika ada). Storyboards iklan membantu tim produksi merencanakan pesan iklan, pengaturan visual, dan pengembangan kreatif secara keseluruhan. Dengan begitu, kamu bisa memvisualisasikan semua aspek sebelum memulai proses produksi. (Fall Off The Wall).

Cara Membuat Storyboard 

Storyboards yang baik haruslah runut, menarik perhatian, sekaligus mudah dipahami. Nah, untuk bisa membuat seperti itu, kamu bisa mengikuti tips dan panduan berikut ini:

  1. Identifikasi konsep video. Sebelum mulai membuat storyboard, kamu harus memiliki konsep yang unik dan kuat untuk proyek garapanmu. Sebab, konsep ini akan memberikan petunjuk tentang hasil akhir secara keseluruhan. Untuk membuat konsep video yang spesifik dan unik, kamu bisa menjawab serangkaian pertanyaan ini serinci mungkin saat memulai:
    1. Apa kamu ingin mempromosikan produk, membawa cerita, atau memberikan informasi yang bersifat edukatif melalui videomu?
    2. Apa pesan yang ingin kamu sampaikan?
    3. Siapa target audiensnya?
    4. Apa gaya atau suasana yang mau kamu ciptakan?
  2. Buat outline. Selanjutnya, kamu perlu membuat outline yang menguraikan alur cerita video secara kronologis. Pertama, mulailah dari awal video untuk menentukan bagaimana adegan pertamanya akan dimulai. Lanjutkan dengan menjelaskan setiap adegan atau momen penting secara berurutan. Terakhir, tentukan bagaimana kamu akan mengakhiri video tersebut. Pastikan alurnya mengalir dengan alami dari awal sampai akhir, ya!Kalau kamu sudah membuat urutan kronologis cerita dalam video, kini kamu perlu menentukan urutan jadwal shooting atau pembuatan ilustrasi. Utamakan proses rekaman untuk adegan di latar yang tidak bisa diakses kapan saja terlebih dahulu.
  3. Persiapkan kerangka kerja storyboard. Berikutnya, kamu harus mempersiapkan kerangka kerja untuk storyboards videomu. Kerangka ini bisa berupa kertas berpetak yang kamu buat sendiri. Alternatif lainnya, kamu juga bisa menggunakan template storyboards yang telah ditentukan oleh studiomu, baik di atas kertas maupun dalam bentuk file khusus software desain grafis. Kalau sudah, bagi kerangka kerjamu menjadi beberapa panel sesuai dengan jumlah adegan yang telah kamu rencanakan dalam outline.
  4. Visualisasikan gagasan dalam bentuk gambar. Tahap berikutnya, isi setiap panel tersebut dengan menggambarkan adegan dari alur cerita yang sudah direncanakan. Gunakan satu panel untuk setiap momen penting dalam alur cerita. Sertakan ekspresi karakter, komposisi latar belakang adegan, efek gerakan, dan elemen penting lainnya. Dengan demikian, kamu bisa menangkap esensi setiap adegan dengan lebih jelas. Selain itu, kamu tidak akan kesulitan menyampaikannya kepada petinggi tim produksi maupun penonton.
  5. Tambahkan informasi rinci untuk setiap adegan. Setelah membuat image untuk setiap adegan, sertakan informasi tambahan untuk setiap panel. Hal ini penting untuk memperjelas pesan yang akan diteruskan kepada tim produksi. Informasi ini bisa terdiri dari deskripsi singkat tentang konteks adegan, dialog, arah angle kamera, atau instruksi khusus untuk pencahayaan. Idealnya informasi tambahan ini tidak melebihi tiga kalimat untuk menghemat space dalam storyboards. Jadi, sampaikan detail tersebut secara singkat, padat, dan jelas.
  6. Lakukan penyempurnaan pada storyboard. Setelah selesai membuat versi awal dari storyboards skenario kamu? Ada satu langkah terakhir penting yang perlu kamu lakukan, yakni melakukan penyempurnaan.Pada tahap ini, kamu harus mengecek kembali detail pada setiap panel. Kamu harus memastikan sudah mengkomunikasikan pesannya secara jelas.Kalau kamu menemukan ada bagian yang ambigu atau kurang jelas, sunting ulang elemen tersebut dengan merincikan detail teks dan visualnya.

Kesimpulan

Storyboard merupakan alat yang sangat penting dalam industri kreatif. Sebab, isinya bisa memetakan konsep visual dan jadwal kerja untuk produksi video iklan, film, atau toko online secara mendetail. Jadi, proses produksi pun akan selesai tepat waktu dan hemat biaya. Makanya, kalau kamu ingin berkarier sebagai pekerja kreatif baik di bidang hiburan maupun marketing kamu perlu menguasai teknik membuat storyboards dengan baik dan benar.

Dengan demikian, kamu bisa menerapkan storytelling dengan efektif dan berkontribusi bagi tempat kerja untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan! Selain menguasai cara membuat storyboard, pekerja kreatif juga harus membekali pengetahuan dan keahlian lain yang relevan.

Pertanyaan Seputar Storyboard

  1. Apa itu storyboard? Storyboard adalah serangkaian gambar berurutan yang digunakan untuk merencanakan visualisasi sebuah cerita, adegan, atau urutan, seperti dalam film, animasi, video game, atau iklan. Anggap saja ini seperti komik draf untuk sebuah proyek video atau media bergerak.
  2. Apa saja jenis storyboard? Storyboards ada beberapa jenis mulai dari thumbnail storyboards, storyboards tradisional, digital storyboards, dan motion storyboards.
  3. Apa saja isi dari storyboard? Setiap panel atau kotak di storyboard biasanya mencakup beberapa hal:
    1. Gambar (Visual): Sketsa atau representasi kasar dari bidikan atau adegan yang akan diambil.
    2. Deskripsi Aksi/Adegan: Penjelasan singkat tentang apa yang terjadi di dalam bidikan frame  tersebut (misalnya, Karakter A berjalan ke pintu, Zoom in ke wajah Karakter B).
    3. Dialog: Teks yang akan diucapkan oleh karakter.
    4. Audio/Musik: Catatan tentang suara, efek suara, atau musik latar yang akan digunakan.
    5. Nomor Bidikan/Panel: Penomoran untuk menjaga urutan yang tepat.
    6. Jenis Bidikan (Shot Type): Penjelasan teknis tentang bagaimana kamera akan merekam (misalnya, Close-up, Long Shot, Low Angle).
    7. Durasi dalam setiap bidikan frame.
  4. Apa saja langkah-langkah membuat storyboard?
    1. Pahami Naskah/Skenario (Script Breakdown)
      • Baca & Analisis: Baca naskah Anda secara menyeluruh. Identifikasi setiap adegan, lokasi, karakter, dan aksi kunci.
      • Tentukan Poin Penting: Tentukan momen krusial di mana visualisasi spesifik diperlukan untuk menyampaikan emosi atau informasi.
      • Buat Daftar Bidikan (Shot List): Secara kasar, tentukan berapa banyak bidikan yang dibutuhkan untuk setiap adegan untuk menceritakan kisah tersebut (misalnya, Satu bidikan lebar, dua bidikan close-up, satu bidikan gerakan).
    2. Tentukan Format dan Alat
      • Pilih Template: Gunakan template storyboard standar (kertas atau digital) yang memiliki kolom untuk gambar, dialog, dan deskripsi aksi/teknis.
      • Tentukan Skala: Putuskan rasio aspek gambar Anda (misalnya, 16:9 untuk video modern) agar sesuai dengan proyek akhir.
      • Siapkan Alat: Pensil/kertas atau perangkat lunak (seperti Storyboarder, Procreate, atau bahkan PowerPoint/Google Slides).
    3. Sketsa Panel Secara Berurutan (Sequential Drawing)
      • Visualisasikan Aksi Kunci: Mulailah menggambar adegan Anda, fokus hanya pada aksi kunci yang menggerakkan cerita. Jangan terlalu fokus pada detail artistik pada tahap ini; kejelasan adalah yang utama.
      • Gunakan Garis Panah: Tambahkan garis panah untuk menunjukkan pergerakan karakter, pergerakan objek, dan pergerakan kamera (misalnya, panah untuk pan, tilt, atau zoom).Jaga Konsistensi Karakter: Meskipun hanya sketsa, pastikan karakter utama Anda mudah dikenali dari satu panel ke panel berikutnya.
    4. Tambahkan Informasi Teknis & Teks
      • Untuk setiap panel, tambahkan detail di kolom terkait:
      • Deskripsi Aksi: Jelaskan singkat apa yang terjadi (misalnya, Kamera bergeser mengikuti mobil, Reaksi terkejut Karakter A).
      • Dialog/Narasi: Tulis dialog yang diucapkan di panel itu.
      • Jenis Bidikan: Catat jenis bidikan yang diinginkan (CU – Close-up, LS – Long Shot, OS – Over-the-Shoulder, POV – Point of View).
      • Durasi: Perkirakan berapa lama bidikan ini akan berlangsung di layar.
    5. Tinjau dan Koreksi (Review and Edit)
      • Tes Aliran (Flow): Susun semua panel dan tinjau dari awal hingga akhir. Apakah cerita mengalir secara logis? Apakah ada lompatan yang membingungkan?
      • Periksa Kontinuitas: Pastikan detail visual konsisten dari satu panel ke panel berikutnya (misalnya, jika karakter memegang cangkir di Panel 5, dia tidak boleh tiba-tiba tidak memegangnya di Panel 6 tanpa alasan).
      • Dapatkan Umpan Balik: Bagikan draf storyboard dengan sutradara, penulis, atau anggota tim lainnya untuk mendapatkan masukan dan melakukan revisi sebelum produksi dimulai.
  5. Apa kegunaan storyboard bagi editor?
    1. Peta Jalan (Roadmap) Penyuntingan. Storyboard berfungsi sebagai panduan visual yang menunjukkan bagaimana sutradara membayangkan alur naratif dan visual proyek tersebut.
      1. Memahami Visi Sutradara: Editor dapat melihat secara eksplisit urutan bidikan yang diinginkan, komposisi, dan timing yang dimaksudkan untuk setiap adegan.
      2. Arah Naratif: Ini memastikan bahwa editor memotong (cut) adegan dengan cara yang mempertahankan kontinuitas dan emosi sesuai rencana awal, bahkan ketika bahan mentah (footage) yang tersedia banyak.
    2. Mempercepat Proses Pemotongan Awal (Assembly Cut). Saat editor menerima rekaman mentah (dailies), mereka perlu menyusunnya menjadi urutan kasar (assembly cut). Storyboard membantu proses dibawah ini menjadi lebih cepat.
      1. Identifikasi Cepat: Editor dapat dengan cepat mengidentifikasi bidikan mana yang sesuai dengan rencana visual, mengurangi waktu yang dihabiskan untuk mencari-cari bidikan terbaik.
      2. Struktur Adegan: Storyboard memberikan kerangka kerja adegan per adegan. Editor tahu persis bidikan mana yang seharusnya dibuka, adegan transisi, dan bidikan penutup.
    3. Memastikan Kesinambungan (Continuity). Meskipun tugas utama script supervisor adalah kontinuitas, storyboard memberikan referensi visual tambahan untuk editor.
      1. Transisi Logis: Editor dapat melihat apakah transisi visual dari satu bidikan ke bidikan berikutnya terasa mulus dan masuk akal, membantu mereka memilih take terbaik yang mendukung alur visual.
      2. Deteksi Kekurangan: Jika ada bidikan kunci yang hilang atau terlihat tidak sesuai dengan panel storyboard, editor dapat segera memberi tahu sutradara atau produser bahwa ada potensi re-shoot (pengambilan ulang) yang diperlukan.
    4. Panduan untuk Animasi dan Efek Visual (VFX). Untuk proyek yang melibatkan animasi atau efek visual, storyboard sangat penting.
      1. Timeline VFX: Editor menggunakan storyboard untuk menentukan persis di mana dan berapa lama efek visual harus muncul, membantu dalam pengalihan pekerjaan ke tim VFX.
      2. Menyusun Placeholder: Editor dapat memasukkan placeholder atau versi kasar dari animasi/VFX berdasarkan durasi yang ditetapkan oleh storyboard, memungkinkan mereka untuk melanjutkan penyuntingan sambil menunggu aset final.
      3. Singkatnya, bagi editor, storyboard adalah rencana lantai yang memungkinkan mereka membangun film atau video secara efisien dan akurat sesuai dengan desain arsitektur (visi sutradara).
  1. Apa fungsi nomor scene pada storyboard? Kegunaan nomor scene pada storyboards skenario adalah untuk menentukan urutan adegan cerita dan mempermudah komunikasi ketika harus menyesuaikan kembali adegan tertentu.

Download Papan Panel Storyboard

No. .PDF
1. Kolom Storyboard
2. Kolom Storyboard2
3. Kolom Storyboard3